Dinas Fasilitas dan Konstruksi Angkatan Udara *

Ir. Rudy M. Nur, MM (2004-2008)

Pada tahun 2004, dilaksanakan serah terima jabatan Kadisfaskonau dari Marsekal Pertama TNI Imam Wahyudi, SE, MM, kepada Marsekal Pertama TNI Ir. Rudy M. Nur, MM sebagai Kadisfaskonau ke-6. Beliau merupakan Perwira pertama dari Korps Sus/Teknik Umum yang menjabat sebagai Kadisfaskonau dari tahun 2004-2008. Karir beliau dapat dikatakan cemerlang karena sudah menduduki jabatan Kadisfaskonau pada usia 50 tahun. Selepas menunaikan tugas sebagai Kadisfaskonau, beliau menjabat sebagai Pati Sahli Bidang Iptek, kemudian sempat ditarik ke Mabes TNI, dan akhirnya menjabat sebagai Asdep Potensi Pertahanan dan Integritas Nasional di Kemenko Polhukam hingga memasuki masa purna tugas di TNI Angkatan Udara pada tanggal 30 November tahun 2011.

Terobosan yang dilakukan Marsekal Pertama TNI Ir. Rudy M. Nur di antaranya adalah mengirimkan perwira-perwira muda Disfaskonau keluar negeri di sekitar ASEAN, untuk melakukan kegiatan studi banding, workshop maupun menyaksikan langsung Internasional Air Show selama beberapa hari. Maksud pengiriman perwira-perwira muda tersebut adalah untuk mencari pengalaman, menambah wawasan dan meningkatkan rasa percaya diri para perwira Disfaskonau, dengan tujuan agar para perwira Disfaskonau memiliki kebanggaan sebagai personel Teknik Umum, berupaya meningkatkan profesionalisme dan kualitas dirinya melalui pendidikan dan pergaulan di dunia internasional. Pengiriman para perwira muda Teknik Umum ke mancanegara dilaksanakan secara bertahap ke negara-negara tetangga seperti Singapore, Malaysia, dan Thailand.

Prestasi yang berhasil ditorehkan oleh Marsekal Pertama TNI Ir. Rudy M. Nur, MM, adalah perjuangan mempertahankan keberadaan Satuan Pemeliharaan Pangkalan (Satharlan), di mana ketika itu banyak pihak-pihak mewacanakan untuk meniadakan Satharlan atau menganggap keberadaan Satharlan tidak perlu. Beliau sangat serius dengan segala cara memperjuangkan Satharlan yang saat itu sudah berada di ujung tanduk, karena saat itu sudah hampir menjadi keputusan pimpinan untuk melikuidasi Satharlan.

Beliau berusaha meyakinkan pimpinan TNI Angkatan Udara betapa pentingnya keberadaan Satharlan di saat kondisi emergency, setelah beliau merasakan langsung dengan mengikuti kursus Pavement Rapid Repair di Taoyuan AFB, Republic of China Air Force (ROCAF) Taiwan pada tahun 1988, pelatihan dan pendidikan konstruksi landasan di Amerika Serikat tahun 1992 maupun latihan bersama RED HORSE di pangkalan udara Halim Perdanakusuma pada tahun 1992. 

Pada saat menghadap Kasau Marsekal TNI Herman Prayitno, beliau menyampaikan bagaimana pun Satharlan sebagai ujung tombak Disfaskonau harus tetap dipertahankan, karena menurut beliau Satharlan adalah nyawa Disfaskonau, bila Satharlan dibubarkan maka keberadaan Disfaskonau menjadi kurang berarti. Keberadaan Satharlan berbeda dengan kegiatan pembangunan fasilitas yang prosesnya dapat dilaksanakan oleh pihak lain melalui proses tender/kontrak, khusus untuk keadaan darurat akibat bencana maupun perang, TNI Angkatan Udara tidak dapat mengandalkan mitra/orang sipil, sehingga harus memiliki Satharlan yang mampu bergerak cepat dan handal di lapangan dalam mengoperasikan, merawat dan memperbaiki alat-alat berat untuk mendukung OMP maupun OMSP.

Keberhasilan mempertahankan eksistensi Satharlan, membangun kembali kemampuan operasional lapangan dan meningkatkan kemampuan teknis personel melalui misi perdamaian PBB, merupakan kenangan yang paling berkesan bagi Marsekal Pertama TNI (Purn) Rudy M. Nur, MM selama beliau menjabat sebagai Kadisfaskonau pada era tahun 2004-2008. 

Read 315 times
Rate this item
(0 votes)